Koperasi sangat cocock sebagai media Industri Film Indonesia

Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM Meliadi Sembiring menegaskan seluruh pihak, termasuk insan perfileman di Indonesia harus sepakat dan satu persepsi, bahwa industri film butuh wadah koperasi untuk menjalankan seluruh kegiatannya. Mulai dari ide, kreasi, produksi, hingga eksibisi (tayang film).

“Koperasi itu merupakan kumpulan orang-orang dengan persepsi, visi, dan misi yang sama. Saya yakin syarat itu bisa terpenuhi karena dalam satu insan dan profesi yang sama,” ungkap Meliadi dalam diskusi bertema Industri Film Butuh Koperasi, di Jakarta, Rabu (28/11).

Acara yang menghadirkan belasan komunitas film di Sumatera, Jawa, Bali, dan NTB ini, Meliadi mengibaratkan industri film ini sebuah pohon, dimana masing-masing memiliki fungsi dan peran. Akar mencari makanan, daun memasak makanan, dan dahan untuk tempat berbuah. “Intinya, bagaimana menyatukan para kreatif membuat film berkualitas dalam satu wadah bernama koperasi,” imbuh Meliadi.

Diakui Meliadi, kalau dalam hitungan swasta mungkin rugi. Tapi, kalau melalui koperasi juga harus menguntungkan. Hanya saja, keuntungan bagi koperasi tidak melulu dihitung dari berapa banyak uang yang dihasilkan, melainkan dari benefit yang diciptakan. “Benefit itu adalah bisa bermanfaat bagi banyak orang atau masyarakat sekitar,” tandasnya.

Dengan potensi ide kreasi yang banyak, lanjut Meliadi, industri film dari hulu hingga hilir bisa dikuasai dan dilakukan melalui koperasi. Sebab menurutnya, jiwa koperasi adalah kebersamaan dan gotong royong, termasuk bagaimana menyangkut pembiayaan atau pendanaan dalam membuat program film.

Hal senada dikatakan Dirjen Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid. Menurutnya badan hukum koperasi merupakan bentuk yang tepat bagi industri kreatif, termasuk perfilman di Indonesia untuk masa kini dan mendatang. “Karena koperasi adalah sebuah institusi bisnis berbasis kerja sama. Bahkan, sudah meluas dan menjadi tren di kalangan anak muda melakukan bisnis berbasis kolaborasi,” kata Hilmar.

Hilmar mengakui, ide dan kreasi di industri film nasional memiliki potensi yang luar biasa besarnya. Tapi, banyak dari ide dan kreasi itu yang tidak bisa terwujud menjadi sebuah program. Masalah industri dan insan film nasional kata dia adalah di sisi produksi dan eksibisi. Sementara Indonesia yang jumlah penduduknya lebih  250 juta jiwa hanya memiliki 1.400 layar bioskop. Padahal Korea Selatan kini sudah memiliki 10 ribu layar bioskop.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *